Minggu, 22 Mei 2016

6 Korban Tewas Sinabung Sedang Bertani di Zona Merah

Liputan6.com, Medan - Korban meninggal akibat awan panas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara bertambah menjadi enam orang, sedangkan korban kritis tiga orang.
Kabid Humas Polda Sumatera Utara AKBP Rina Sari Ginting mengatakan, erupsi disertai awan panas dari Gunung Sinabung terjadi Sabtu sore, 21 Mei.

"Saat erupsi, seluruh korban sedang bertani yang masuk dalam zona merah," kata Rina, Minggu (22/5/2016).

Dijelaskannya, peristiwa nahas tersebut terjadi di desa Gamber Kecamatan Simpang Empat, kabupaten Karo. Para korban melakukan kegiatan di kawasan yang merupakan zona merah atau berjarak radius 5 kilometer Gunung Sinabung.

"Saat mereka sedang bertani, tiba-tiba datang awan panas Gunung Sinabung menyambar para korban," kata dia.

Rina menuturkan, saat ini Polda Sumut bersama Polres Karo telah melakukan kordinasi dengan BPBD Sumut, BPBD Karo, Tim SAR dan TNI untuk melakukan tagap bencana, serta melakukan evakuasi seluruh korban.

"Masyarakat juga diimbau untuk tidak mendekati zona merah yang sudah ditentukan," ujar Rina.

Saat ini empat jenazah korban Sinabung berada di RSU Kabajahe Kabupaten Karo. Mereka segera diserahkan ke pihak keluarga korban. Sedangkan, tiga korban kritis masih dirawat di RSUPH Adam Malik Medan.

Berikut nama-nama korban awan panas Sinabung :

Korban Tewas:
Karman Meliala (60)
Irwansyah Sembiring (17)
Nanin Boru Sitepu (50)
Leo Perangin-angin (25)
Mulip Ginting (45)
Ersada Ginting (55)


Korban Kritis:
Ibrahim Sembiring (51)
Cahaya Sembiring (57)
Cahaya Boru Tarigan (45)

Gunung Sinabung Kembali Erupsi Tadi Pagi


Gunung Sinabung Kembali Erupsi Tadi Pagi

Indoberita.com – Gunung Sinabung kembali erupsi Tadi Pagi Sebanyak dua kali, Gunung berapi yang berada di  Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Erupsi ini menymburkan awan panas sampai ketinggian 1.000 meter ke udara. kepulan asap dapat terlihat sampai jarak puluhan kilo meter.
penduduk di sekitar di harap waspada dan agar tidak panik, erupsi yang mulai pukul 09. 59 itu mengeluarkan abu vulkanik dan lahar panas yang menyembur dari perut gunung.
Erupsi pertama terjadi sekira pukul 07.32. Kolom letusan mencapai ketinggian 1.0000 meter. Bahkan, kolom letusan terlihat dari Brastagi yang jaraknya 25 Km dari puncak Sinabung.
kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat ada sembilan kali ledakan yang mengakibatkan gempa guguran terjadi sejak pukul 00.00 dini hari. Sebanyak 631 kali gempa frekuensi rendah dan tremor terjadi sepanjang malam dan pagi tadi. Guguran lava pijar meluncur jauh hingga sejauh 1.5 km ke arah timur tenggara.
Dan untuk setatus gunung sinabung kini sendiri masih berada di lavel IV. Aktivitas gunung masih tinggi dan fluktuatif. di harapkan masyarakat setempat berwaspada dan di himbau agar tidak panik. menghindari zona yang sudah di tetapkan pemerintah setempat yaitu sejauh 3 Km dari gunung, 7 Km ke selatan, dan 6 Km ke tenggara.
RRN.
Untuk yang kesekian kalinya Gunung berapi paling aktif ini memuntahkan lava pijar dan awan panas yang mengakibatkan perkebunan warga rusak karena abu vulkanik yang di keluarkan dari perut gunung.

BNPB: Enam tewas, tiga kritis akibat awan panas Sinabung


Berita Terkini Hari Ini:  Erupsi, 7 Warga Gunung Sinabung Terkena Semburan Lava
Image copyright AFP
Image caption Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung sampai sekarang masih tinggi, letusan disertai awan panas masih sering terjadi.
Data sementara dari BPBD Karo, Sumatera Utara menyatakan terdapat sembilan orang terkena awan panas, enam tewas dan tiga kritis dengan luka bakar terkena awan panas.
Pernyataan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, "Semua korban adalah warga Desa Gamber, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo yang berada di zona merah saat Gunung Sinabung meletus disertai luncuran awan panas pada Sabtu (21/5/2016) pukul 16.48 WIB."
Tim SAR gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, PMI, relawan dan masyarakat terus melakukan pencarian korban dengan menyisir rumah dan kebun masyarakat.
Tidak diketahui secara pasti berapa banyak masyarakat yang berada di Desa Gamber saat kejadian luncuran awan panas.
Nama korban meninggal yaitu, Karman Milala, Irwansyah Sembiring, Nantin Br. Sitepu, Leo Perangin-angin, Ngulik Ginting, dan Ersada Ginting.
Sementara korban luka, Brahim Sembiring, Cahaya Sembiring, dan Cahaya br Tarigan.
Image copyright Getty
Image caption Petani di Desa Tiga Kicat masih mengerjakan kebunnya dengan latar Gunung Sinabung pada 17 Juni 2015. Sebagian masyarakat tetap berkebun bahkan saat letusan terjadi.
Semua korban kini berada di RS Efarina Etaham Kabanjahe.
Menurut pernyataan BNPB, seharusnya tidak ada aktivitas masyarakat di Desa Gamber yang dinyatakan sebagai daerah berbahaya atau zona merah.
Desa Gamber berada pada radius 4km di sisi tenggara dari puncak kawah Gunung Sinabung.
Berdasarkan rekomendasi PVMBG, di Desa Gamber tidak boleh ada aktivitas masyarakat karena berbahaya dari ancaman awan panas, lava pijar, bom, lapilli, abu pekat dan material lain dari erupsi.
"Namun sebagian masyarakat tetap nekat berkebun dan tinggal sementara waktu sambil mengolah kebun dan ladangnya. Alasan ekonomi adalah faktor utama yang menyebabkan masyarakat Desa Gamber tetap nekat melanggar larangan masuk ke desanya," menurut pernyataan tersebut.
Letusan disertai awan panas masih sering terjadi sehingga membahayakan bagi petugas SAR.
Aktivitas vulkanik sampai sekarang masih tetap tinggi. Potensi letusan susulan disertai luncuran awan panas juga masih berpeluang terjadi di sisi timur, tenggara dan selatan.
Image caption Foto yang diambil di Karo pada 14 Juni 2015 ini menunjukkan abu dari Gunung Sinabung. Awan panas bisa melaju dengan kecepatan di atas 100km per jam.
Image copyright AFP
Image caption Foto yang diambil di Karo pada 14 Juni 2015 ini menunjukkan abu dari Gunung Sinabung. Awan panas bisa melaju dengan kecepatan di atas 100km per jam.
"Adanya suplai magma dari perut Gunung Sinabung maka guguran lava yang menghasilkan awan panas umumnya terjadi setelah pertumbuhan kubah lava. Awan panas ini merupakan campuran material berukuran debu hingga blok bersuhu lebih dari 700 derajat Celsius yang meluncur dengan kecepatan bisa di atas 100 kilometer per jam," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB.
Sejak akhir Oktober 2014, Desa Gamber direkomendasikan sebagai daerah berbahaya dan masyarakatnya harus direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Sebanyak 1.683 KK (4.967 jiwa) masyarakat di 4 desa harus direlokasi tahap kedua yaitu dari Desa Gamber, Kuta Tonggal, Gurukinayan, dan Berastepu.
Sambil menunggu proses relokasi, maka masyarakat pun ditempatkan di hunian sementara.
Namun, menurut BNPB, "Adanya keterbatasan lahan menyebabkan relokasi tidak dapat dilakukan secara cepat."

Senin, 16 Mei 2016

Ini Dugaan Awal Penyebab Banjir Bandang Sibolangit Reporter : Khalif | Senin, 16 Mei 2016 - 18:09 WIB Foto Ini Dugaan Awal Penyebab Banjir Bandang Sibolangit Air Terjun Dua Warna di Sibolangit sebelum diterpa banjir bandang. Kini/Ist Sibolangit, kini.co.id – Penyebab bencana banjir bandang di Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara masih terus ditelusuri. Namun dari dugaan awal, bencana yang juga berdampak ke objek Air Terjun Dua Warna itu diindikasi dikarenakan penebangan illegal (illegal logging). Informasi dihimpun KiniNEWS, Senin (16/05/2016) sore ini, illegal logging itu menjadi penyebab banjir bandang yang melanda kawasan Sibolangit dan Jalan Medan-Berastagi pada Minggu (15/05/2016) sore itu. Hal itu juga dibenarkan Plt Gubsu Tengku Erry Nuradi yang berkunjung ke Posko Basarnas di Kecamatan Sibolangit. “Kemungkinan awal memang iya (illegal logging). Petugas gabungan masih menelusuri,” kata Tengku Erry, Senin (16/05/2016). Tengku Erry datang ke sana bersama rombongan SKPD Pemerintah Provinsi Sumut, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan, dan Waka Polda Sumut Brigjen Adhi Pranoto. Saat ini petugas juga masih terus mencari korban hilang yang belum ditemukan. “Masih terus dicari. Ada yang belum ditemukan. Sembilan mahasiswa Stikes Flora juga masih dicari. Kita berdoa saja dan beri waktu kepada tim,” kata Tengku Erry. (baca juga: Banjir Bandang Sibolangit, 9 Mahasiswa Stikes Belum Ditemukan) Sementara itu Camat Sibolangit Amos Karokaro menjelaskan korban yang berada di Air Terjun Dua Warna saat banjir bandang terjadi. “Yang naik (ke Dua Warna) 78 orang, yang kembali 56 orang. 56 itu yang selamat semua. 78 kurang 56 kan 22. Jadi 22 orang inilah korban. Kemudian, jam 11 (malam), satu orang berhasil diselamatkan, namanya Mordang Harahap. Jadi korbannya tinggal 21 orang. Dari 21 orang ini, yang mayatnya sudah berhasil ditemukan banyak. Tapi yang sudah dievakuasi baru dua,” jelas Amos Karokaro.

Sumber: http://nasional.kini.co.id/2016/05/16/14895/ini-dugaan-awal-penyebab-banjir-bandang-sibolangit
Follow Twitter @KiniOnline dan FB http://fb.com/KiniOnline

21 Orang Hilang Akibat Banjir di Deli Serdang

Banjir bandang di Sibolangit, Senin 16 Mei 2016.

21 Orang Hilang Akibat Banjir di Deli Serdang

Banjir bandang di Sibolangit, Senin 16 Mei 2016. (Youtube)
Karo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Deli Serdang melanjutkan proses pencarian terhadap 21 wisatawan yang dikabarkan hilang akibat banjir di perbatasan Kabupaten Tanah Karo dengan Deli Serdang.
"Memang benar ada yang dilaporkan hilang akibat meluapnya sungai di Sibolangit tersebut. Mereka yang hilang itu adalah mahasiswa, saat kejadian berada di pemandian Air Terjun Dua Warna," ujar Kepala BPBD Deliserdang, Zainal Abidin, Senin (16/5).
Zainal mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan nasib mahasiswa yang dikabarkan hilang saat mandi di lokasi wisata tersebut. Petugas juga dibantu masyarakat di Sibolangit dalam melakukan pencarian terhadap korban yang hilang itu.
"Mulai sejak kejadian banjir, Minggu (15/5) sore kemarin, masyarakat membantu melakukan pencarian. Namun, belum ada korban yang ditemukan. Lokasi wisata itu jauh dari kawasan Sibolangit," katanya.
Sementara itu, sejumlah warga di Sibolangit merasa terkejut karena banjir itu sampai ke jalanan. Rendaman air justru turun dari atas dan bukan melalui daratan terendah. Kondisi ini membuat arus lalulintas di Medan-Berastagi, menjadi lumpuh total.
"Kondisi air yang turun dari atas di daerah pegunungan ke jalanan sangat deras. Ada ratusan pengendara sepeda motor yang terjatuh saat mencoba melewati banjir itu," ujar seorang warga Sibolangit, Simon Sembiring (45).
Simon mengatakan, kejadian banjir itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Banjir yang terjadi kali ini akibat meluapnya Sungai Sibolangit. Kedalaman air akibat banjir yang menggenangi jalan lebih dari selutut orang dewasa. Bahkan, air yang turun sangat deras.
Menurutnya, banjir itu terjadi akibat kerusakan hutan di perbatasan antara Kabupaten Deli Serdang dengan Kabupaten Tanah Karo. Soalnya, banyak laporan penebangann hutan secara illegal di kawasan tersebut.
"Masyarakat mengkhawatirkan, banjir lebih besar bakal mengancam daerah ini. Jika lokasi pegunungan ini sudah terkena banjir maka dampak paling parah akan terjadi di Medan, Binjai, Langkat maupun Deli Serdang," sebutnya.